INFO

INFO TIKET ONLINE : PESAWAT TERBANG - KERETA API - BIS - TREVEL - TIKI - JNE - KANTOR POS - GLOBAL
Tampilkan postingan dengan label AGAMA ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AGAMA ISLAM. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 September 2014

NAMA - NAMA YANG DILARANG DALAM AGAMA ISLAM | DI HINDARI


Berikut adalah sebahagian daripada nama-nama lain dalam Islam yang harus dielakkan dan dihindari bagi menamakan bayi anda :
A
  • Abiqah Hamba yang lari dari tuannya
  • Abkam Tidak celik, buta
  • Afinah Yang bodoh
  • Amah Hamba suruhan perempuan
  • Asiah Wanita yang derhaka
  • Asyar Paling jahat
  • Asyirah Yang tidak bersyukur atas nikmat
  • Aznie Aku berzina
B
  • Baghiah Yang zalim, jahat
  • Bahimah Binatang
  • Bakiah Yang menangis, merengek
  • Balidah Yang bodoh, bebal
  • Baqarah Lembu Betina
  • Batilah Yang batil, tidak benar
D
  • Dabbah Binatang
  • Dahisyah Goncang, stress
  • Dahriyah Yang mempercayai alam wujud dengan sendirinya
  • Dami’ah Yang mengalir air matanya
  • Daniyah Yang lemah dan hina
  • Darakah Kedudukan yang rendah
F
  • Faji’ah Kecelakaan
  • Fajirah Yang jahat, yang berdosa
  • Fasidah Yang rosak, yang binasa
  • Fasiqah Yang jahat, si fasik
  • Fasyilah Gagal, kalah
G
  • Ghafilah Yang lalai, yang leka
  • Ghaibah Hilang
  • Ghailah Kecelakaan, bencana
  • Ghamitah Yang tidak mensyukuri nikmat
  • Ghasibah Perampas, perompak
  • Ghawiah Yang sesat, yang mengikut hawa nafsu
H
  • Haqidah Yang dengki
  • Hasidah Yang hasad
  • Hazinah Yang sedih
  • Huzn Kesedihan
J
  • Jafiah Yang tidak suka berkawan
  • Jariah Hamba suruhan perempuan
K
  • Kafirah Yang kafir, yang ingkar
  • Kaibah Yang sedih
  • Kamidah Yang hiba, yang sangat berduka
  • Kazibah Pendusta, pembohong
  • Khabithah Yang jahat, yang keji
  • Khali’ah Yang tidak segan silu, mengikut hawa nafsu
  • Khamrah Arak
  • Khasirah Yang rugi
  • Khati’ah Yang bersalah, yang berdosa
L
  • Laghiah Sia-sia, tidak berfaedah
  • Lahab Bara api
  • Lahifah Yang sedih, menyesal dan dizalimi
  • La’imah Yang tercela
  • Lainah Yang terkutuk
M
  • Majinah Yang bergurau senda tanpa perasaan malu
  • Majusiah Agama menyembah api atau matahari
  • Maridah Yang menderhaka
  • Munafikah Yang munafik
  • Musibah Celaka, bencana, kemalangan
N
  • Najisah Yang najis dan kotor
  • Nariah Api
  • Nasyizah Yang menderhaka dan melawan suami
Q
  • Qabihah Yang buruk, hodoh
  • Qasitah Yang melampaui batasan dan menyeleweng dari kebenaran
  • Qatilah Pembunuh
  • Qazurah Kejahatan, perzinaan
R
  • Rajimah Yang direjam, yang dilaknat
  • Razani Kepala zakar lelaki
  • Razi’ah Kecelakaan, musibah
  • Razilah Yang keji dan hina
S
  • Safih Insan Manusia bodoh
  • Safilah Yang rendah dan hina
  • Sahiah Yang pelupa
  • Sharrul / Sharru Jahat
  • Sakirah Pemabuk
  • Sakitah Yang jatuh, yang hina, yang jahat
  • Syafihah Yang bodoh
  • Syani’ah Yang buruk
  • Syaqiyah Yang menderita
  • Syaridah Yang diusir
  • Syariqah Pencuri
  • Syarisah Yang buruk akhlak
  • Syarrul Bariyyah Sejahat-jahat manusia
  • Syatimah Maki hamun
T
  • Tafihah Karut
  • Talifah Yang rosak, yang binasa
  • Talihah Yang tidak baik
  • Tarbiyah Yang papa kedana
  • Tarikah Anak dara tua
W
  • Wahiah Yang lemah, yang jatuh, yang buruk
  • Wahimah Yang lemah
  • Wahinah Penakut
  • Wailah Bencana, keburukan
  • Wajilah Penakut
  • Waqi’ah Pertempuran dalam peperangan, umpatan
  • Waqihah Yang kurang sopan dan malu
  • Wasikhah Yang kotor
  • Wasyiah Yang mengumpat, yang mengadu dombakan orang
  • Wati/Waty Nama Hindu/tiada makna
  • Wathy / Wathi Bersetubuh
Y
  • Yabisah Yang kering, yang sedikit kebaikannya
  • Yaisah Yang berputus asa
Z
  • Zalijah Kebinasaan
  • Zalilah Yang hina
  • Zalimah Yang zalim
  • Zaniyah Penzina, pelacur
  • Zufafah Racun pembunuh
----------------------------------------- MUDAH - MUDAHAN BERMANFAAT -------------------------

Senin, 25 Agustus 2014

UKURAN BENAR MENURUT ISLAM


BENAR DALAM DIRI MANUSIA

Apa Itu Kebenaran?

Telah dikatakan bahwa manusia bukan tidak sekedar ingin tahu, tetapi ingin tahu kebenaran. Ia ingin memiliki pengetahuan yang benar’. Kebenaran ialah persesuaianantara pengetahuan dan obyeknya. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang sesuai dengan obyeknya. Inilah kebenaran obyektif. Seperti dikatakan Poedjawijatna.

pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang obyektif. Kalau saya mengatakan bahwa di luar sedang hujan, proposisi itu benar jika apa yang saya katakan memang sesuai dengan fakta. Jadi, ketika saya mengucapkan kalimat itu, hujan sedang turun. Kalau hujan tidak turun, apalagi sedang panas terik, maka proposisi itu tidak benar.

Tiga Jenis Kebenaran

Ada tiga jenis kebenaran, yakni kebenaran epistemologis, kebenaran ontologis, dan kebenaran semantik. Kebenaran epistemologis berkaitan dengan pengetahuan, kebenaran ontologis berkaitan dengan hakikat sesuatu, dan kebenaran semantik berkaitan dengan tutur kata atau bahasa. Di bawah ini diuraikan secara singkat setiap jenis kebenaran.

1. Kebenaran Epistemologis

Disebut juga kebenaran logis.. Yang dipersoalkan di sini ialah apa artinya pengetahuan yang benar? Atau, kapan sebuah pengetahuan disebut pengetahuan yang benar? 
Jawabannya: bila apa yang terdapat dalam pikiran subyek sesuai dengan apa yang ada dalam obyek.

2. Kebenaran Ontologis

Kebenaran ontologis berkaitan dengan sifat dasar atau kodrat dari obyek. Misalnya, kita mengatakan batu adalah benda padat yang keras. Ini sebuah kebenaran ontologis, sebab batu pada hakikatnya merupakan benda padat yang sangat keras. Manusia yang benar adalah manusia yang sesuai dengan kodrat kemanusiaannya.Kebenaran ontologis dapat dibedakan menjadi:

2.1. Kebenaran Ontologis Esensialis: menyangkut sifaat dasar atau kodrat sesuatu
2.2. Kebenaran Ontologis Naturalis: menyangkut kodrat seperti yang diciptakan Tuhan
2.3. Kebenaran Ontologis Artifisial: menyangkut kodrat yang diciptakan oleh manusia.

3. Kebenaran Semantik

Kebenaran ini berkaitan dengan pemakaian bahasa. Ini tergantung pada kebebasan manusia sebagai makluk yang bebas melakukan sesuatu. Bahasa merupakan ungkapan dari kebenaran. Teori-teori Kebenaran

Ada tiga teori utama tentang kebenaran, yaitu teori korespondensi, koherensi, dan pragmatis. Berikut diuraikan secara ringkas ketiga teori tersebut.

1. Teori Korespondensi

Teori ini mengatakan bahwa suatu proposisi benar kalau proposisi itu sesuai dengan fakta. Kalau saya mengantakan bahwa salju berwarna putih, pernyataan itu benar jika fakta menunjukkan bahwa salju berwarna putih. Teori ini dianut terutama oleh kaum idealis, seperti F.H. Bradley. Harap diingat, bahwa definisi tentang kebenaran yang dikemukakan di depan, pada dasarnya merupakan teori korespondensi. Teori ini diterima oleh kalangan luas.

2. Teori Koherensi

Para penganut teori koherensi mengatakan bahwa suatu proposisi benar jika proposisi itu berhubungan (koheren) dengan proposisi-proposisi lain yang benar. Karena sifatnya demikian, teori ini mengenal tingkat-tingkat kebenaran. Di sini derajat koherensi merupakan ukuran bagi derajad kebenaran. Tetapi teori ini punya banyak kelemahan dan mulai ditinggalkan. Misalnya, astrologi mempunyai sistem yang sangat koheren, tetapi kita tidak menganggap astrologi benar.

3. Teori-teori Pragmatis

Teori ini pada dasarnya mengatakan bahwa suatu proposisi benar jika dilihat dari realisasi proposisi itu. Jadi, benar-tidaknya tergantung pada konsekuensi. Kebenaran, kata Kattshoff, merupakan gagasan yang benar dan dapat dilaksanakan dalam suatu situasi. Jadi, kata kunci untuk teori-teori pragmatis ialah "dapat dilaksanakan" dan "berguna". Jadi, para penganut teori itu mengatakan bahwa benar-tidaknya sesuatu bergantung pada dapat-tidaknya proposisi itu dapat dilaksanakan, dan apakah proposisi itu berguna. ‘

Sifat-sifat Kebenaran Ilmiah

Kebenaran ilmiah diperoleh melalui prosedur baku di bidang keilmuan yakni metodologi ilmiah.Teori manakah yang berlaku bagi kebenaran ilmiah? Pada kebenaran ilmu-ilmu alam berlaku teori korespondensi, sedangkan pada kebenaran ilmu-ilmu manusia terlaku

teori koherensi.

Pada ilmu-ilmu alam, fakta obyektif mutlak diperlukan untuk membuktikan setiap proposisi atau pernyataan. Oleh sebab itu, kebenaran adalah kesesuaian antara proposisi dan fakta obyektif. Sebaliknya, pada ilmu-ilmu manusia, yang dituntut ialah konsistensi dan koherensi antarproposisi.

Kebenaran ilmiah bersifat obyektif dan universal. Bersifat obyektif, artinya kebenaran sebuah teori ilmiah (atau aksioma dan paradigma) harus didukung oleh kenyataan obyektif (fakta). Itu berati, kebenaran ilmiah tidak bersifat subyektif.

Kebenaran ilmiah bersifat universal sebab kebenaran ilmiah merupakan hasil konvensi dari para ilmuwan di bidangnya. Hanya dengan demikian, kebenaran ilmiah dapat dipertahankan. Hal ini mengandaikan pula bahwa tidak tertutup kemungkinan suatu teori yang dianggap benar suatu waktu akan gugur oleh hasil penemuan baru. Biasanya, dalam kasus seperti ini dilakukan penelitian ulang dan pengkajian yang mendalam. Dan, kalau penemuan baru (yang menolak kebenaran lama) bisa dibuktikan kebenarannya, maka kebenaran lama harus ditinggalkan. Itupun membutuhkan konvensi para ilmuwan. Alasan mengapa kebenaran ilmiah juga bersifat relatif ialah karena rasio manusia terbatas. Ilmu, dan teknologi, mengalami perkembangan tidak sekaligus dan final, tapi tahap demi tahap. Lebih sering suatu kebenaran berarti kebenaran sementara (Tim UGM, 121-12.3).
 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Persoalan kebenaan memang persoalan utama dalam khidupan manusia..bahkan dari persoalan Tuhan..sebab, sebelum kit meletakkan prinsip2 kebenaran, mka kita tidak bisa menetapkan apapun....

Senin, 21 Juli 2014

HUKUM MENJADI TKW DI LUAR NEGERI MENURUT ISLAM

Menjadi TKW yang bekerja di luar negeri hukumnya haram, berdasarkan 2 (dua) alasan utama : Pertama, karena TKW telah bekerja di luar negeri tanpa disertai mahram atau suaminya. Padahal syara’ telah mengharamkan seorang perempuan muslimah melakukan perjalanan (safar) sehari semalam tanpa disertai mahram atau suami, meski untuk menunaikan ibadah haji yang wajib. (Imad Hasan Abul ‘Ainain; ‘Amal Al-Mar`ah fi Mizan Al-Syari’ah Al-Islamiyah, hal.42; M. Ali al-Bar, Amal Al-Mar`ah fi Al-Mizan, hal. 29; Riyadh Muhammad Al-Musaimiri; ‘Amal Al-Mar`ah Bayna Al-Masyru’ wa Al-Mamnu’, hal. 22; Taqiyuddin an-Nabhani, An-Nizham al-Ijtima’i fi Al-Islam, hal. 35).

Dalam masalah ini Imam Ibnu Qudamah menyatakan siapa saja perempuan yang tidak punya mahram dalam perjalanan haji, tidak wajib naik haji. (Al-Mughni, 5/30). Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW,”Tidak halal perempuan yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir melakukan perjalanan selama sehari semalam kecuali disertai mahramnya.” (HR Bukhari no 1088; Muslim no 1339; Abu Dawud no 1723; Tirmidzi no 1170; Ibnu Majah no 2899; Ahmad no 7366).
Berdasarkan hadits ini, haram hukumnya menjadi TKW di luar negeri. Karena umumnya TKW tidak disertai mahram atau suaminya dalam perjalanannya ke luar negeri. TKW itu pun tetap dianggap musafir yang wajib disertai mahram atau suaminya, selama dia tinggal di luar negeri hingga dia kembali ke negeri asalnya (Indonesia). (Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Al-Jami’ li Ahkam Al-Shalah, 2/337).

Kedua,menjadi TKW juga haram ditinjau dari segi lain, yaitu keberadaan TKW telah menjadi perantaraan munculnya berbagai hal yang diharamkan syara’. Misalnya, terjadinya pelecehan seksual, perkosaan, kekerasan, pembunuhan, pemotongan upah, dan pungutan liar. Semua ini telah diharamkan oleh syara’ berdasarkan dalilnya masing-masing. Maka, menjadi TKW hukumnya haram berdasarkan kaidah fiqih Al-Wasilah ila al-Haram Muharramah (segala perantaraan yang mengakibatkan terjadinya keharaman, hukumnya haram). (M. Shidqi Burnu, Mausu’ah Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah, 12/199).

Atas dasar dua alasan ini, haram hukumnya menjadi TKW yang bekerja di luar negeri. Pengiriman TKW ke luar negeri pun wajib dihentikan, sesuai kaidah fiqih Al-Dharar yuzaal (segala macam bahaya wajib dihilangkan). (Imam Suyuthi, Al-Asybah wa Al-Nazha`ir, hal. 83; M. Bakar Ismail, Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah Bayna Al-Ashalah wa Al-Taujih, hal. 99). Wallahu a’lam.

Makna Wanita Diciptakan dari Tulang Rusuk yang Paling Bengkok

“Berbuat baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas.Maka sikapilah para wanita dengan baik.” (HR al-Bukhari Kitab an-Nikah no 5186)


Ini adalah perintah untuk para suami, para ayah, saudara saudara laki laki dan lainnya untuk menghendaki kebaikan untuk kaum wanita, berbuat baik terhadap mereka ,

tidak mendzalimi mereka dan senantiasa memberikan ha-hak mereka serta mengarahkan mereka kepada kebaikan. Ini yang diwajibkan atas semua orang berdasarkan

sabda Nabishalallahu ‘alayhi wasallam, “Berbuat baiklah kepada wanita.”

Hal ini jangan sampai terhalangi oleh perilaku mereka yang adakalanya bersikap buruk terhadap suaminya dan kerabatnya, baik berupa perkataan maupun perbuatan

karena para wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, sebagaimana dikatakan oleh Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam bahwa tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas.

Sebagaimana diketahui, bahwa yang paling atas itu adalah yang setelah pangkal rusuk, itulah tulang rusuk yang paling bengkok, itu jelas. Maknanya, pasti dalam

kenyataannya ada kebengkokkan dan kekurangan. Karena itulah disebutkan dalam hadits lain dalam ash-Shahihain.“Aku tidak melihat orang orang yang kurang akal dan

kurang agama yang lebih bias menghilangkan akal laki laki yang teguh daripada salah seorang diantara kalian (para wanita).” (HR. Al Bukhari no 304 dan Muslim no. 80)

Hadits Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam yang disebutkan dalam ash shahihain dari hadits Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu. Makna “kurang akal” dalam sabda Nabi

shalallahu ‘alayhi wasallam adalah bahwa persaksian dua wanita sebanding dengan persaksian seorang laki laki. Sedangkan makna “kurang agama” dalam sabda

beliau adalah bahwa wanita itu kadang selama beberapa hari dan beberapa malam tidak shalat, yaitu ketika sedang haidh dan nifas. Kekurangan ini merupakan

ketetapan Allah pada kaum wanita sehingga wanita tidak berdosa dalam hal ini.

Maka hendaknya wanita mengakui hal ini sesuai dengan petunjuk nabi shalallahu ‘alayhi wasallam walaupun ia berilmu dan bertaqwa, karena nabi shalallahu ‘alayhi

wasallam tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, tapi berdasar wahyu yang Allah berikan kepadanya, lalu beliau sampaikan kepada ummatnya, sebagaimana firman

Allah Subhanahu wa Ta’ala,“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan

hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs. An-Najm:4)

Sumber:Majmu Fatawa wa Maqadat Mutanawwi’ah juz 5 hall 300-301, Syaikh Ibn Baaz Fatwa fatwa Terkini Jilid 1 Bab Perlakuan Terhadap Istri penerbit Darul Haq